Tingginya Tarif Masuk Obat Impor Pengaruhi Ketersediaan di Pasaran

Posted by tabitha
Category:

Jakarta, IDN Times -Tingginya tarif masuk obat impor ke Indonesia dinilai akan sangat memengaruhi harga jual. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa A. Amanta mengatakan, tingginya tarif juga akan memengaruhi ketersediaan obat tersebut di pasaran.

“Kalau hambatan seperti ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan memengaruhi kondisi kesehatan warga, terutama mereka yang membutuhkan obat-obat tertentu yang terkena tarif tinggi tersebut,” jelas Felippa dalam keterangan tertulis, Minggu (29/9).

1. Indonesia masih menerapkan tarif tinggi untuk obat-obatan impor

Felippa mengatakan, nilai perdagangan biofarmasi di seluruh dunia di negara-negara yang tidak termasuk dalam perjanjian meningkat lebih dari 20 persen antara 2006 dan 2013. Indonesia menerapkan tarif impor pada bahan-bahan farmasi yang dibutuhkan untuk memproduksi obat.

“Indonesia termasuk dalam negara-negara yang masih menerapkan tarif tinggi untuk obat-obatan impor,” katanya.

2. Hambatan non-tarif meliputi prosedur bea cukai hingga pajak tak transparan

Selain hambatan berupa tarif, lanjut Felippa, masih ada hambatan yang termasuk ke dalam hambatan non-tarif. Beberapa hal yang termasuk ke dalam Non-Tariff Measures (NTMs) antara lain adalah prosedur bea cukai yang tidak efisien, prosedur ekspor/impor yang rumit, birokrasi administrasi, pajak yang tidak transparan, dan infrastruktur perdagangan yang kurang digunakan.

“Beberapa macam jenis hambatan non-tarif yang masih diberlakukan di Indonesia di antaranya persyaratan pelabelan dan pengemasan yang tidak mudah, kewajiban untuk memenuhi berbagai perizinan dan lisensi untuk importir, dan persyaratan bahwa obat-obatan impor harus melewati pelabuhan tertentu,” kata Felippa.

3. Indonesia memberlakukan tarif 4,3 persen

Berdasarkan database tarif WTO, Nepal menjadi negara yang memberlakukan tarif tinggi untuk obat-obatan impor, yaitu sebesar 14,7 persen. Database tarif WTO juga menyebutkan, tingkat rata-rata pengenaan tarif tertinggi ditemukan di Asia Selatan dan Amerika Latin.

“Sementara, Indonesia menerapkan tarif sebesar 4,3 persen,” ujarnya.

Sumber: idntimes.com