Raih Sertifikasi Kemenperin, Batik Kedungcangkring Langganan Ekspor

Posted by tabitha
Category:

Tabitha.com SIDOARJO – Sudah turun temurun batik khas Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon beredar di pasar dalam negeri dan mancanegara. Batik Kedungcangkring juga dianggap sebagai pelopor batik di Pekalongan dan Solo.

Pembatik Lutfillah Aerdjaka sebagai turunan ke-10 yang memegang kemudi batik Kedungcangkring menceritakan, batik tersebut sudah lama menembus pasar mancanegara. “Sejak dipegang mbah (nenek) saya sudah diekspor,” ujarnya.

Proses ekspornya pun langsung ditangani oleh Kementerian Perindustrian. Kualitas ekspor batiknya semakin tinggi semenjak diberlakukannya batikmark sejak tahun 2007 yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian dengan menerbitkan Permen no 74 tentang Penggunaan batikmark.

Batikmark adalah suatu tanda yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia yang terdiri dari tiga jenis. Yakni batik tulis, batik cap, dan batik kombinasi tulis dan cap.

Tujuan utama penerbitan sertifikasi batikmark memastikan perspektif dunia bahwa tekstil bermotif dan berproses batik adalah kekayaan tradisional Indonesia dan menjaga kualitas tekstil bermotif batik dan berproses batik tersebut kepada para konsumen batik.

Logo Batikmark Indonesia juga sudah terdaftar di Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM. Dengan kepastian HKI ini, maka logo batik tulis berwarna emas, batik kombinasi berwarna perak, dan batik cap berwarna putih.

Orang awam kebanyakan sulit membedakan batik tulis, batik kombinasi, dan batik cap. Alih-alih membeli pakaian batik asli, konsumen justru membeli tekstil bermotif batik. Dan, jumlah konsumen pembeli tekstil motif batik ini sangat besar karena warna dan motifnya menarik.

Logo tersebut, digunakan sebagai alat pembeda batik buatan Indonesia dengan produk batik dari negara lain. Sehingga memudahkan konsumen mancanegara mengenal batik Indonesia ataupun para pembeli dalam negeri untuk lebih meyakini dari apa yang akan dipakai.

“Batik Kedungcangkring dari tahun 2014 punya Batikmark. Di Sidoarjo hanya satu. Regulasinya satu kabupaten/kota hanya satu yang punya batikmark ini,” imbuhnya.

Setiap kali ekspor, batik Kedungcangkring bisa mengirim 400 sampai 5000 lembar kain batik. Negara yang paling banyak dituju yakni Cyprus, Amerika, India dan Tiongkok. Untuk ekspor harga dari pembatik, per lembar dibanderol 20 dollar Amerika. Tahun ini sudah 12 kali ekspor.

Motif dan warna batik yang digemari mancanegara, banyak bermain di warna-warna alam. Memakai pewarna alami daun mangga, mengkudu, dan kulit kendanten. “Sebelum ekspor, batik yang diproduksi, dicek dulu,” jelasnya.

Luthfi mengatakan, semenjak memiliki batikmark, banyak kemudahan yang didapat. Di antaranya setiap kali ada tawaran ekspor, untuk pameran di luar negeri dan kegiatan lainnya, batiknya lah yang diprioritaskan. (rpp/vga)

Sumber: jawapos.com

Open chat
Powered by