Susah Maju, Ongkos Logistik RI Kalah dari Vietnam & India

Posted by tabitha
Category:

Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas mengungkapkan biaya logistik Indonesia masih tinggi. Rasio biaya logistik masih 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2018. Biaya logistik mencakup biaya distribusi, inventori barang dan lainnya.

Beban biaya logistik sebesar itu, membuat Indonesia masih kalah dengan Vietnam dan India. Hal ini akan berdampak pada daya saing. Padahal untuk menjadi negara maju, biaya logistik di bawah 10%.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, berbeda jauh dengan Indonesia, biaya logistik di India hanya 13% dari PDB, sementara Vietnam sebesar 20% dari PDB.

“Jika Anda pengusaha atau investor ingin mendapatkan return [keuntungan] di Indonesia jadi Anda harus berpikir ulang atas logistic cost yang sebesar 24% ini,” kata dia di kantornya, Rabu (9/10/2019).

Biaya logistik Indonesia tercatat lebih tinggi ketimbang Malaysia sebesar 13% dari PDB, Thailand 15% dari PDB, dan Singapura 8% dari PDB.

Berdasarkan peringkat Logistic Performance Index (LPI) yang berada di posisi ke-46 pada 2018. Meski berhasil naik 17 peringkat dari ke-63 di 2016, Indonesia masih kalah dari Malaysia yang bertengger di peringkat ke-41, Vietnam ke-39, Thailand ke-32, dan Singapura ke-7.

LPI merupakan indeks pembanding sistem logistik secara global yang dibuat oleh Bank Dunia. Tujuannya untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang logistik dan perdagangan suatu negara.

Oleh karena itu, Bambang menilai, Indonesia masih harus terus membangun infrastruktur, guna memperluas konektivitas dan memperbaiki jaringan distribusi. Jika upaya tersebut konsisten dilakukan, maka Indonesia bisa memangkas biaya logistik hingga di bawah 20% pada 2024.

“Yang paling penting 2045 kalau kita sudah menjadi negara maju biaya logistiknya harus di bawah 10%,” imbuhnya.

Bambang juga menjelaskan, Indonesia juga masih kalah saing dari sisi regulasi perdagangan. Ia menyebut beban biaya bagi eksportir tergolong tinggi lantaran proses perizinan dan regulasi perdagangan yang masih rumit.

Eksportir di Indonesia membutuhkan waktu kurang lebih hingga 5,4 hari untuk melengkapi dokumen ekspor. Waktu tersebut lebih lama dibandingkan Thailand yang tercatat hanya 2,3 hari, Malaysia 1,6 hari, dan Singapura setengah hari saja.

“Jadi Anda dapat melihat kombinasi antara lebih lama dan lebih mahal. Sesuatu yang tidak menarik pada bisnis di seluruh dunia tapi ini terjadi di Indonesia,” katanya. (hoi/hoi)

Sumber: cnbcindonesia.com