Memahami Dana Abadi yang Diminati Amerika Hingga UEA

Posted by tabitha
Category:

Jakarta, CNN Indonesia — Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja mendapat komitmen investasi dari Uni Emirat Arab (UEA). Rencananya, investasi itu akan mengalih ke banyak sektor dan proyek, salah satunya ke pengelolaan dana abadi (Sovereign Wealth Fund/SWF).

Khusus investasi ke SWF, kabarnya Indonesia tidak hanya mendapat aliran dana dari UEA. Sejumlah mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat dan Jepang juga berencana mengalirkan dananya ke SWF.

Lantas apa sebenarnya SWF?

Dikutip dari berbagai sumber, SWF merupakan pengelolaan investasi yang berasal dari kelebihan kekayaan negara atau sering disebut sebagai dana abadi. Dari sisi sumber dana, SWF bisa berasal dari kekayaan negara yang terbagi atas dua bentuk.

Pertama, dari sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui seperti minyak, gas, dan mineral. Kedua, dari aset keuangan yang diinvestasikan, misalnya saham, surat utang atau obligasi, logam mulia, dan instrumen lain.

“Mudahnya, SWF adalah tabungan negara. Jadi kelebihan yang dimiliki negara, diinvestasikan dengan tujuan untuk return (imbal hasil) yang lebih besar lagi,” jelas Menteri Keuangan 2014-2016 Bambang PS Brodjonegoro, seperti dikutip dari situs Kementerian Keuangan pada Selasa (14/1).

Nah, sumber kekayaan negara itu sejatinya tidak terbatas dari Indonesia saja. Negara-negara lain juga bisa mengalirkan dana abadinya ke lembaga SWF di Indonesia.

Saat ini, Indonesia sebenarnya sudah memiliki lembaga pengelola dana abadi. Namun, lembaga tersebut dibatasi untuk tujuan tertentu.

Pemerintah membagi pengelolaan dana abadinya untuk Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN), Dana Abadi Penelitian, serta Dana Abadi Kebudayaan dan Dana Abadi Perguruan Tinggi.

“Hasil investasi dari dana abadi tersebut ditujukan untuk meningkatkan akses ke masyarakat pada jenjang pendidikan tinggi, peningkatan kualitas riset, pemajuan kebudayaan nasional, dan peningkatan kualitas PT,” terang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Kemudian, belum lama ini, Indonesia juga memiliki lembaga pengelola dana abadi untuk bantuan luar negeri bernama Indonesian Agency for International Development. Alokasi dana yang digelontorkan pemerintah untuk lembaga tersebut mencapai Rp2 triliun pada 2019.

Sebelumnya, Indonesia sudah sempat memiliki cikal bakal SWF di bidang investasi, yaitu Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang merupakan Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan. Namun, seluruh aset PIP kemudian justru dialihkan untuk memperkuat modal PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Sementara kehadiran SMI diharapkan mampu mempercepat penyediaan pembiayaan untuk berbagai proyek infrastruktur. Maklum saja, Indonesia sebagai negara berkembang masih perlu berbenah dan membangun infrastruktur.

Lagipula, kehadiran PIP saat itu juga masih terbatas. Pasalnya, hanya mengelola kelebihan dana negara yang berasal dari cadangan devisa yang notabenenya tidak terlalu besar karena harus tetap disisihkan untuk kegiatan perdagangan internasional.

Di dunia, SWF bukan barang baru. Sejumlah negara pun sudah memiliki SWF. Negara tetangga Indonesia, Singapura, memiliki SWF melalui Temasek Holdings, sementara Malaysia dengan Khazanah Nasional.

Kemudian, China memiliki China Investment Corporation, SAFE Investment Company, National Social Security Fund, dan China-Africa Development Fund. Begitu pula dengan Hong Kong melalui Hong Kong Monetary Authority Investment Portofolio dan Korea Selatan dengan Korea Investment Corporation.

Sementara AS yang minat berinvestasi di SWF Indonesia memiliki lembaga serupa per wilayah bagian. Misalnya, West Virginia Future Fund, Oregon Common School Fund, Louisiana Education Quality Trust Fund, Utah-SITFO, Idaho Endowment Fund Investment Board, Alabama Trust Fund, North Dakota Legacy Fund, Permanent Wyoming Mineral Trust Fund, hingga Permanent University Fund.

Sedangkan UEA memiliki lembaga pengelola SWF, yaitu Abu Dhabi Investment Authority, Investment Corporation for Dubai, Mubadala Investment Company, Abu Dhabi Investment Council, dan Emirates Investment Authority. (uli/agt)

sumber : cnnindonesia
Open chat