Industri tekstil mulai gulung tikar

Posted by tabitha
Category:

Kabar tak mengenakkan datang dari dunia industri tanah air. Sekitar sembilan sampai sepuluh pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) dinyatakan tutup. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat.

“Ada 9-10 perusahaan give up dan tutup karena generasi kedua tak mau lagi membuat industri tekstil,” kata Ade kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/9/2019) lalu. Sejauh ini, Ade tidak merinci siapa dan di mana lokasi pabrik yang gulung tikar tersebut.

Namun, yang Ade jabarkan, ada dua masalah utama penyebab industri tersebut gulung tikar. Pertama adalah tidak adanya regenerasi dari keluarga pemilik industri. Menurut Ade, generasi kedua atau selanjutnya, lebih memilih industri dunia digital saat ini.

“Dalam waktu dan tenaga yang sama, anak-anak muda sekarang pilih bisnis lain daripada tekstil,” katanya.

Masalah utama kedua, dan ini seperti masalah yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun, adalah serbuan barang-barang impor. Baik dari industri hulu, tengah, hingga hilir, menurut Ade, dibanjiri produk-produk luar.

Akibatnya, industri TPT dalam negeri tak dapat bersaing. Untuk itu, para pelaku industri TPT kini kompak mengajukan tarif perlindungan dari produk impor atau safeguard bagi produk mereka.

Bila tak dilakukan, nasib industri TPT, terutama yang di hulu dan menengah, bakal makin tertekan. “Ini adalah masalah eksistensi hidup atau mati, perlindungan industri dalam negeri untuk devisa yang lebih besar demi menjaga pasar domestik ini,” ucapnya.

Kondisi yang dijabarkan Ade tadi, sejalan dengan kondisi lapangan. Setidaknya, itu yang terlihat dunia industri TPT di Jawa Barat (Jabar). Menurut Wakil Ketua Bidang Organisasi SPSI Kabupaten Bandung, Mulyana, kondisi usaha tekstil di Jabar saat ini mengalami persoalan karena terus menurunnya jumlah produksi.

Hal itu sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Musababnya, sama seperti yang diungkapkan Ade, yakni impor. Namun, khusus di Jabar, kondisi ini juga semakin diperparah dengan diperketatnya izin pembuangan limbag ke Sungai Citarum.

Hampir semua perusahaan tekstil di Kabupaten Bandung, kata Mulyana, mengalami penurunan. Beberapa perusahaan sudah merumahkan karyawan misalnya Naga Sakti, Alena Tex, Rama Tex, dan lainnya.

Mulyana berharap, pemerintah segera melakukan upaya untuk mengendalikan barang impor agar produksi lokal bisa bertahan. “Persaingan dengan produk impor itu sangat sulit pasar lokal nggak terserap,” ucap Mulyana kepada Republika.co.id, Mei lalu.

Sebelum Ade mengungkapkan fakta tadi, industri tekstil tanah air sudah terlebih dahulu terkena guncangan hebat. Muasalnya, PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST), anak usaha Duniatex Group, gagal bayar bunga utang sindikasi yang mencapai Rp18,79 triliun.

Menurut pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, industri TPT memang cukup rapuh akhir-akhir ini. Salah satu sebabnya karena lemahnya permintaan global efek perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

Belum lagi persaingan di industri ini semakin ketat. “Persaingan yang ketat dari kompetitor asal Vietnam dan Bangladesh juga membuat produsen tekstil Indonesia berguguran. Daya saing industri kita melemah,” kata Bhima.

Memang, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor tekstil Indonesia susut hingga 86 persen dalam empat tahun terakhir. Kinerja apik ekspor TPT Indonesia terakhir terjadi pada 2015.

Sumber : Badan Pusat Statistik
Sumber: beritagar.id