Ekspor Ditarget Naik 22%

Posted by tabitha
Category:

Tabitha.com – Indonesia terus berupaya meningkatkan kinerja ekspor. Salah satunya dengan menjalin perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang melibatkan 16 negara, terdiri atas 10 negara ASEAN dan enam negara dari Asia Pasifik.

Dengan kerja sama itu diharapkan bisa mendongkrak ekspor Indonesia sebesar 8%-11% pada lima tahun pertama dan 18%-22% pada lima tahun selanjutnya. “Dari segi perdagangan lima tahun pertama Indonesia entry to force, melaksanakan perjanjian ini, lima tahun pertama ekspor kita bisa meningkat sekitar 8%-11%.

Setelah lima tahun pertama tadi, kita bisa meningkat lebih tajam lagi 18%-22% itu kalau didukung oleh investasi yang masuk,” tutur Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Iman Pambagyo di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (22/10). Selain itu, lanjut Iman, sisi infrastruktur juga terus diperbaiki demi bisa menunjang aktivitas ekspor secara fisik. Dalam hal kesiapan infrastruktur, salah satu yang mendapat perhatian serius adalah perihal kesiapan pelabuhan.

Menurut dia, Pelabuhan Tanjung Priok paling siap menjadi pelabuhan pengepul ekspor-impor. Selama ini cukup banyak pengembangan yang dilakukan Pelabuhan Tanjung Priok untuk meningkatkan kapasitas operasional, sehingga menjadikannya hub gateway untuk muatan ekspor- impor. “Dengan digitalisasi yang dikembangkan, Tanjung Priok bisa menekan dwelling time menjadi di bawah tiga hari. Ini berdampak positif untuk semua, termasuk para pemilik kapal,” ujar Ketua Umum Indonesia National Shipowners Association (INSA), Carmelita Hartoto, Selasa (22/10).

Tantangan

Dia menegaskan, pengembanganpengembangan akses menuju pelabuhan juga turut memberi andil positif bagi kinerja logistik, karena pelabuhan hub gateway sangat efektif bila ada akses yang baik dengan sentra industri dari komoditas ekspor.

Mengenai beban biaya logistik yang dinilai masih tinggi, yakni rata-rata mencapai 25% dari produk domestik bruto (PDB) atau lebih tinggi dibandingkan dengan vietnam dan Malaysia, dia berkomentar daya saing kinerja pasti menjadi tantangan, tapi melalui perbaikan kinerja logistik nasional diyakini biaya dapat lebih efisien. Untuk layanan direct call yang terus bertambah, menurut Carmelita, jelas akan menurunkan biaya logistik. Dari segi waktu saja sudah terjadi efisiensi.

“Kunci dari keberhasilan direct call adalah terdapatnya kargo volume yang madai bagi shippinglines. Inilah yang juga perlu dikejar untuk direct call,” paparnya. Sebagai informasi, RCEP hingga saat ini masih dalam status berunding atau belum memasuki tahap implementasi. Rencananya, untuk penandatanganan kesepakatan RCEP ini dilaksanakan pada November 2020. 

Sumber: suaramerdeka.com

Open chat
Powered by